WAJILŪN DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU)
Kata Kunci:
wajilūn, Semantik, Toshihiko IzutsuAbstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi memahami kata wajilūn dalam Al-Qur’an sebagai salah satu istilah kunci yang mencerminkan dimensi spiritual seorang mukmin. Lafaz ini tidak hanya menggambarkan rasa takut biasa, tetapi menunjukkan getaran hati yang lahir dari keimanan, ketundukan, dan kesadaran mendalam terhadap keagungan Allah. Kajian semantik Al-Qur’an, khususnya pendekatan Toshihiko Izutsu, memberikan ruang analitis yang komprehensif untuk menelusuri perkembangan makna wajilūn dari periode pra-Qur’anik, Qur’anik, hingga pasca-Qur’anik. Minimnya penelitian yang secara khusus mengulas lafaz ini dengan pendekatan semantik historis menjadi alasan utama penelitian ini dilakukan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui dokumentasi berupa kitab tafsir, kamus, jurnal ilmiah, dan karya-karya Toshihiko Izutsu, khususnya God and Man in the Qur’an. Analisis data menggunakan kerangka semantik Izutsu yang meliputi penentuan makna dasar (basic meaning), makna relasional (relational meaning), analisis sinkronik dan diakronik, serta penyusunan weltanschauung Qur’ani dari lafaz wajilūn. Teknik analisis teks diterapkan untuk menelaah struktur makna lafaz wajilūn dalam ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya QS. al-Ḥijr (15): 52 serta ayat-ayat lain yang mengandung derivasi akar kata و-ج-ل.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna wajilūn pada periode pra-Qur’anik cenderung berkaitan dengan rasa takut spontan terhadap bahaya duniawi. Dalam periode Qur’anik, maknanya berkembang menjadi ketakutan spiritual yang lahir dari kesadaran iman, ketundukan, dan penghormatan mendalam kepada Allah. Pada masa pasca-Qur’anik, para mufassir memperluas maknanya menjadi kondisi psikologis berupa getaran halus dalam hati akibat kedekatan spiritual kepada Allah tanpa keluar dari weltanschauung Qur’ani. Penelitian ini menghasilkan pemetaan semantik yang menunjukkan bahwa wajilūn merupakan indikator sensitivitas rohani seorang mukmin serta konsep ketakwaan yang integral dalam struktur makna Al-Qur’an. Selain itu, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui integrasi analisis historis, sintagmatik, dan paradigmatik untuk memetakan evolusi makna wajilūn secara lebih komprehensif.
Referensi
Al-Aṣfahānī, A. R. (2005). Al-Mufradāt fī gharīb al-Qur’ān. Dār al-Ma‘rifah.
Al-Jarim, A., & Amin, M. (1994). Al-Balāghah al-wāḍiḥah (M. Nurkholis et al., Trans.). Sinar Baru Algensindo.
Al-Maliki Al-Hasani, M. B. A. (n.d.). Al-Qawaid al-asasiyah fii ulum al-Qur’an: Kaidah-kaidah dasar dalam ilmu al-Qur’an. Hai’ah Ash Shofwah Al Malikiyyah.
Al-Qurṭubī, A. A. M. I. A. (2008). Tafsir al-Qurṭubī: Al-Jāmi’ li aḥkām al-Qur’ān (M. I. Al Hifnawi & M. H. Utsman, Trans., Vol. 1). Pustaka Azzam.
Anis, I., et al. (2004). Al-Mu‘jam al-wasīṭ. Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah.
Azizah, A. U., & Mundzir, M. (2022). Perkembangan term jihad dalam Al-Qur’an (Aplikasi pendekatan semantik Toshihiko Izutsu). Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir, 6(1), 146–159.
Djamaluddin, B., & Nurlailah. (2023). Problematika penerjemahan teks bahasa Arab ke bahasa Indonesia: Studi kasus alih bahasa Al-Qur’an Departemen Agama 1976. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 5(2), 242–243.
Fatimah, S. (2020). Al-Qur’an dan semantik Toshihiko Izutsu. Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 3(2), 114–126.
Fitriyah, T., & Hidayah, N. (2020). Bahasa Arab dan kemukjizatan bahasa Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan, Bahasa Arab, dan Kajian Linguistik Arab, 3(1), 9–17.
Imaduddin, M. (2023). Makna kata yad (يد) dalam Al-Qur’an (Analisis semantik Toshihiko Izutsu) [Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga].
Indra. (2022). Fitnah dalam perspektif Al-Zamakhsyari (Studi atas pendekatan semantik Toshihiko Izutsu) [Skripsi, Institut PTIQ Jakarta].
Izutsu, T. (2002). Ethico-religious concepts in the Qur’an. McGill University Press.
Izutsu, T. (2003). Relasi Tuhan dan manusia: Pendekatan semantik terhadap Al-Qur’an (A. F. Husein, Trans.). Tiara Wacana Yogya.
Izutsu, T. (2008). God and man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic weltanschauung. Islamic Book Trust.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahan. Cordoba.
Mamasoni, M. S. (2022). Uslub al-Qur’an: Studi uslub taqdim wa ta’khir dalam Al-Qur’an. Jurnal Studi Bahasa dan Sastra Arab, 1(1), 58–69.
Munawwir, A. W. (1997). Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Pustaka Progressif.
Muzakki, A. (2015). Stilistika Al-Qur’an. UIN Maliki Press.
Nasution, E. R., et al. (2025). Kajian kritis ad-dakhil dari jalur linguistik. Jurnal Perspektif Agama dan Identitas, 10(6), 153–165.
Rahmani, D. A., & Alwizar. (2024). I’jazul Qur’an (Mukjizat Al-Qur’an). Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, 5(2), 799–812.
Sahidah, A. (2018). God, man, and nature. IRCiSoD.
Sahidah, A. (2025). Semantik dan ma’anil Qur’an perspektif Toshihiko Izutsu tentang relasi Tuhan, manusia, dan alam. IRCiSoD.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Vol. 4). Lentera Hati.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Vol. 5). Lentera Hati.
Siregar, I., et al. (2024). Ijaz Al-Qur’an menurut pandangan ulama kontemporer. Journal Islamic Studies, 2(2), 230–239.
Syafirin, M. (2020). The meaning of salat in Al-Qur’an: Semantic analysis of Toshihiko Izutsu. Jurnal Alif Lam, 1(1), 11–21.
Syahfrizal, D., et al. (2024). Mukjizat Rasulullah berupa Al-Qur’an (Studi i’jaz Al-Qur’an). Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, 2(5), 81–86.
Abdurrohman, R., et al. (2023). Memahami makna semantik lafaz nasihat dan wasiat dalam Al-Qur’an: Pendekatan teori Toshihiko Izutsu. Journal of Arabic Studies, 4(2), 270–282.
Wahbah al-Zuḥailī. (2009). Tafsir Al-Munir (Vol. 9). Dar al-Fikr.